Disdikbud Natuna Gelar Rapat Awal Penyusunan Kurikulum Muatan Lokal Geopark

DISDIKBUD NATUNA — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna mulai melakukan langkah awal penyusunan kurikulum muatan lokal Geopark yang akan diterapkan pada berbagai jenjang pendidikan. Penyusunan tersebut diawali melalui rapat koordinasi bersama tim penyusun pada Kamis, 3 September 2026, bertempat di Ruang Rapat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna.

Rapat koordinasi ini menjadi tahap awal untuk menyamakan persepsi dan merumuskan arah penyusunan kurikulum muatan lokal yang mengangkat potensi serta karakteristik Geopark Natuna sebagai bagian dari proses pembelajaran di satuan pendidikan.

Kegiatan dihadiri oleh tim penyusun yang akan terlibat dalam proses perumusan kurikulum. Dalam pembahasannya, tim memetakan kebutuhan kurikulum berdasarkan karakteristik dan tingkat perkembangan peserta didik.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Nasria, S.Si., mengatakan bahwa penyusunan kurikulum muatan lokal Geopark merupakan bagian penting dalam upaya mengenalkan kekayaan dan potensi daerah kepada peserta didik melalui pendidikan.

“Hari ini kita memulai langkah awal penyusunan kurikulum muatan lokal Geopark. Kita perlu menyusun kurikulum yang benar-benar sesuai dengan karakteristik daerah dan dapat diterapkan sesuai dengan jenjang pendidikan, sehingga peserta didik dapat mengenal Geopark Natuna sejak dini,” ujar Nasria.

Dalam rapat tersebut disepakati bahwa penyusunan kurikulum akan dibagi ke dalam empat kelompok jenjang, yakni PAUD, SD, SMP, dan pendidikan nonformal Paket C.

Pembagian tersebut dinilai penting karena setiap jenjang memiliki karakteristik peserta didik, tingkat pemahaman, serta kebutuhan pembelajaran yang berbeda. Oleh karena itu, materi mengenai Geopark nantinya tidak dapat diberikan dengan pendekatan yang sama pada seluruh jenjang.

Untuk menindaklanjuti hasil rapat, akan dibentuk tim kecil pada masing-masing jenjang pendidikan. Tim tersebut akan bertugas memperkerucut materi, menentukan ruang lingkup pembelajaran, serta menyusun konsep kurikulum yang lebih spesifik sesuai dengan tingkat pendidikan masing-masing.

“Setiap jenjang tentu memiliki pendekatan yang berbeda. Anak PAUD misalnya, membutuhkan materi yang sederhana dan dekat dengan lingkungan mereka. Begitu juga SD, SMP, dan Paket C memiliki kebutuhan pembelajaran yang berbeda. Karena itu, kita bentuk tim kecil agar penyusunannya bisa lebih fokus dan mendalam,” jelas Nasria.

Melalui pembentukan tim kecil tersebut, penyusunan kurikulum diharapkan dapat berjalan lebih terarah. Masing-masing tim akan melakukan pembahasan lebih lanjut sebelum nantinya hasil penyusunan dari setiap jenjang disatukan menjadi sebuah kurikulum muatan lokal Geopark.

Kurikulum ini diharapkan tidak sekadar menjadi materi pembelajaran tambahan, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun pengetahuan dan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan serta kekayaan alam dan budaya daerah.

Dengan mengenalkan Geopark melalui pendidikan, peserta didik diharapkan dapat memahami bahwa potensi daerah merupakan bagian penting yang perlu dikenal, dihargai, dijaga, dan dilestarikan.

Rapat koordinasi pada Kamis tersebut menjadi titik awal dari rangkaian proses penyusunan kurikulum muatan lokal Geopark. Selanjutnya, tim-tim kecil akan melakukan pembahasan lebih rinci pada masing-masing jenjang sebelum menghasilkan rumusan kurikulum yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan di Kabupaten Natuna.

(DISDIKBUD/HF)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *