DISDIKBUD NATUNA — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna terus mendorong penguatan kualitas pembelajaran melalui kegiatan lokakarya guru literasi dan numerasi berbasis lokal. Kegiatan yang mengangkat tema “Mengembangkan Bahan Ajar Berbasis Living Landscape dan Geopark Natuna” ini dilaksanakan pada Rabu, 21 Oktober 2026, bertempat di Museum Natuna, Kabupaten Natuna.
Lokakarya tersebut diikuti oleh sejumlah guru dari berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Natuna. Kegiatan ini menjadi ruang belajar dan berbagi pengalaman bagi para pendidik untuk mengembangkan bahan ajar yang kontekstual, kreatif, serta dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Melalui pendekatan living landscape, lingkungan dan kondisi alam di sekitar peserta didik dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran. Kekayaan alam, sejarah, budaya, tradisi masyarakat, serta potensi Geopark Natuna menjadi bagian dari lingkungan belajar yang dapat diintegrasikan ke dalam materi pembelajaran di sekolah.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran literasi dan numerasi yang lebih menarik dan bermakna. Literasi tidak hanya dikembangkan melalui kegiatan membaca dan menulis, tetapi juga melalui kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, serta mengomunikasikan gagasan berdasarkan kondisi nyata di lingkungan sekitar.
Sementara itu, penguatan numerasi dapat dilakukan dengan mengajak peserta didik mengamati, mengukur, membandingkan, membaca data, hingga menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, lingkungan lokal tidak hanya menjadi objek pengamatan, tetapi juga sumber belajar yang dapat memperkuat pemahaman konsep secara nyata.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, H. Ilham Kauli, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa pengembangan bahan ajar berbasis potensi lokal merupakan salah satu upaya untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan karakteristik daerah dan kehidupan peserta didik.
“Natuna memiliki kekayaan alam, budaya, sejarah, dan bentang alam yang dapat menjadi sumber belajar bagi anak-anak kita. Saya berharap para guru mampu mengembangkan potensi tersebut menjadi bahan ajar yang kreatif dan kontekstual, sehingga literasi dan numerasi tidak hanya dipelajari sebagai teori di dalam kelas, tetapi juga dipahami melalui kehidupan nyata di lingkungan mereka sendiri,” ungkapnya.
Ia juga berharap kegiatan lokakarya ini dapat mendorong para guru untuk terus berinovasi, saling berbagi praktik baik, serta mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pemanfaatan potensi lokal diharapkan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan kecintaan generasi muda terhadap daerahnya.
Pelaksanaan kegiatan di Museum Natuna turut memberikan relevansi terhadap upaya mengenalkan kekayaan sejarah dan identitas daerah sebagai bagian dari sumber pembelajaran. Melalui pengenalan lingkungan dan potensi Geopark Natuna, peserta didik diharapkan dapat semakin memahami kekhasan wilayah tempat mereka tumbuh sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian alam dan budaya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna berharap lokakarya ini tidak berhenti pada kegiatan berbagi pengetahuan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui penyusunan dan penerapan bahan ajar berbasis lokal di satuan pendidikan masing-masing.
Dengan dukungan guru yang inovatif dan pemanfaatan potensi daerah secara optimal, pengembangan literasi dan numerasi diharapkan semakin dekat dengan kehidupan peserta didik, sekaligus memperkuat identitas lokal sebagai bagian penting dari proses pendidikan di Kabupaten Natuna.
(DISDIKBUD/HF)


